Musang Berbulu Domba



Negeri Para Bedebah


R. Patria Pura

"Warning : Cerita fiksi apabila ada kesamaan nama, tempat dan alur cerita hanya ketidaksengajaan semata." 

Gedung impian Negera dipenuhi orang-orang penting, berperan sebagai pembela masyarakat kecil bergemuruh membela para jagoan di ring tinju emas. Terlihat 2 seorang petarung berdasi mengenakan baju rapih dengan tatapan tajam melirik sang juara bertahan, "Monster" teriakan para penonton bersorak membela sanga juara bertahan di Ring Tinju dipenuhi ketok palu dan berkas-berkas putih berisikan data-data para pejabat berperan penting untuk Negara. Tangannya yang lincah dari sang penantang baru melepaskan pukulan cepat meleset dari target, kedua petarung itu tampak sama memiliki otak yang pintar, jual beli pukulan terjadi seiring waktu berjalan sang juara bertahan yang dijuluki si "Monster" tampak tenang menghindari pukulan-pukulan mematikan dari lawan tarungnya, sebagian penonton berseru "Yeah..." dan "Oh NO!!" bercampur di kedua sudut Gedung tampak bising. 

"Well, bagaimana dengan kau George..." tanya orang yang duduk disampingku menyikut sambil tertawa kecil, aku menghiraukannya saat melihat para petarung saling mendaratkan pukulan mereka. "Hahahaha, pertandingan ini hanya untuk orang yang rakus, hiburan bagi mereka mencari tiket emas untuk berlayar ke miami menggunakan kapal pesiar mewah." Jawabku kepada James di tengah pertandingan cukup mencekam. "Oh ya? padahal salah satu petarung itu adalah atasanmu, lalu bagaimana jika dia kalah?" Seru James tampak heran, "Aku tidak peduli, toh siapapun yang menang nanti...aku hanya seorang kacung mereka. Kau tau, hiburan ini sangat luar biasa bagi sebagian orang apalagi piala bergilir berhadiah sangat fantastis..." James terdiam sejenak mendengar jawabanku saat itu.

"Para hadirin sekalian...pemenang dari pertarungan elite di berbagai penujuru daerah dimenangkan oleh sang Juara bertahan Paul!!" wasit mengetuk palu sebagian orang terdiam mendengar hasil pertandingan itu tampak tegang. Aku dan tim kru emas berseru serak gembira melihat atasan kami yang memang berbakat dalam adu taktik meyakinkan mereka, wajah kecewa dan murung terlihat jelas dari sudut kiri si penantang terlalu cepat untuk mencoba mengambil kursi hangat dari sang juara bertahan. "Cekrek" lampu kamera para wartawan terlihat ramai dari pintu masuk, mencoba mengabadikan moment penting menjadi berita hangat. Paul terlihat senang berbadan buncitnya mengangkat kedua tangan kepada para pers bersedia untuk diliput. "Terimasih dukungan dan kepercayaan para masyarakat Makau..." Ujar Paul atasan kami tersenyum melambaikan tangan. 

Malam hari terlihat ramai oleh lampu remang remang menghiasi rumah villa, suara musik perayaan kemenangan oleh Paul si juara bertahan mengundang para pejabat untuk berkumpul bersama.

"Silahkan masuk tuang George selamat datang..." ujar penjaga pintu mengenakan jas hitam tampak garang, badannya kekar bagaikan hercules yang siap menyingkirkan para pengintai.

"Bravo, selamat atas kemengannya...bagaimana dengan kapal pesiar pesanan anda tuan?" tanya laki-laki berkumis berkacamata bulat yang tebal, tawaan kecil terttutup kumis tebal menghiasi wajahnya.

"Hahahaha, tenang saja semuanya sudah siap. Rencana kita akan berhasil jangan khawatir..." Seru Paul sambil memegang gelas cantik berisi anggur dari swedia dan wanita cantik disebelah Paul.

"Hei, George kemari...ada yang ingin kubicarakan dengan anda," Paul memanggilku dari kejauhan dengan tangan melambai.

"Saya tahu betul bahwa kamu adalah orang yang tepat untuk mengerjakan proyek ini, tentu dengan tampangmu yang baik bisa dipercaya oleh public..." Ujar Paul berbisik kecil menyikut lenganku di ruangan megah.

Aku terdiam mendengar permintaan Paul sambil menelan ludah, pasalnya Paul memiliki rencana busuk untuk menyuap mereka para kucing yang kelaparan. "Tak usah khawatir beri saja mereka 'ROTI' jalan kemenangan akan menjadi miliki kita." seru lelaki berkumis yang duduk manis menikmati secangkir anggur menatap tajam.

"Lalu, apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan jatah tuan Paul?" Aku bertanya dengan nada risau penuh khawatir,

"Hahaha, kau jangan risau...jadwalku sangat sibuk untuk konfrensi politik minggu ini. Kau temui saja mereka membawa setumpuk uang supaya mereka diam!" jawab Paul dengan nada serak tampak mengerikan.

"Baiklah, aku akan menemui para kacung itu untuk tidak ikut campur urusan kita..."

Paul adalah Anggota Dewan yang sangat rakus dan pintar, tak heran dengan gelar MBA di UK sangat lihai dalam memanipulasi pemerintah, Penyelewengan Dana yang fantastis sudah dia jalankan 6 bulan ini, namun kabar ini begitu cepat menyebar walaupun kami tutup rapat-rapat. Malam itu aku pulang dari Villa membawa beban dengan setumpuk uang ratusan dollar amerika, kulihat wajah wajah pribumi terlihat murung menatap langit, bajunya lusuh tak karuan, badannya kurus kering tampak kurang gizi di persimpangan jalan. Pulang menggunakan mobil limusin hitam kesayanganku lengkap dengan supir  berseragam membuka pintu mobil. Diperjalanan malam itu kami dikagetkan oleh sekumpulan wartawan dan Kepolisian Makau lengkap dengan lencana dan senjata laras panjang menghentikan mobilku.

"T-Tunggu...apa apaan ini?" ujarku kepada mereka memegang badanku dengan kuat terasa sesak.

"Sudah Diam!! anda dilaporkan sebagai Tersangka pencucian uang Negara!" Jawabnya membentak terlihat garang menyodorkan senjata api tepat dimuka. Mencoba melepaskan tangan yang diborgol besi terenyata sulit, para wartawan yang sibuk memfoto wajahku sangat menyilaukan mata.

Sial mereka menggeledah mobil limusinku dengan ketat menemukan setumpuk barang bukti cek dan mutasi rekening gendut. Aku terdiam lemas dikagetkan oleh mereka yang membawaku pada mobil tahanan terlihat usang. Wajah mereka ditutupi helm dan lencana tebal 7 orang lebih. Hujan membasahi kami dimalam yang dingin, sialnya Paul menang telak dalam permainan yang dia mulai. betapa bodohnya aku mengikuti perintah tak lain hanya jebakan ilusi dan manipulasi publik atas kasus haram mereka.

"Aku bisa jelaskan semuanya, bahwa mereka lah otak dibalik semuanya, tolong dengarkan penjelasanku pak hakim!" Aku mengelak membela diri dalam persidangan siang ini.

"Saya tidak bisa menerima penjelasan anda, apa pula aku harus mendengar saran dari tersangka. Sudah jelas bahwa bukti mengarah pada anda tuan George..." seru pak hakim mengenakan seragam berwarna merah di ruang persidangan dipenuhi oleh para pejabat dan kuasa hukum yang berwenang di Makau.

Aku terdiam menelan ludahku sendiri, mereka para "Bajingan Kecil" sungguh lihai dalam memainkan "Dadu" bersama tim sukses yang rakus akan uang. Persidangan berakhir dengan 3 kali ketukan palu meja hakim dengan hukuman 15 tahun penjara, kulihat istri dan anak-anakku terdiam melihat bapaknya dihukum keji, wajahnya menahan rasa malu bercampur kecewa tergambar dari kerutan diwajahnya. Paul tertawa kecil melihat rekannya di hakimi di persidangan, tentu memiliki kuasa hukum yang cerdas aku kalah telak, Raja tikus tidak akan kalah dengan curut kecil, Paul sibuk menikmati Kapal Pesiar Mewah pribadi yang dia beli sebulan yang lalu, bersama wanita-wanita cantik lengkap dengan koki dan kapten kapal, kabur meninggalkan Makau untuk mengamankan dirinya. Sungguh sial aku jatuh kelubang yang dalam dan gelap bersama mereka para Napi kelas Kakap lainnya.

"Korupsi adalah kejahatan luar biasa tindak keji merampok hak-hak warga Negara. Prodeo bukan tempat berlibur perampok kelas kakap, biar mereka tahu kalau penjara memang pengap. Tak boleh ada keistimewaan bagi koruptor napi korupsi layak dibui di tempat paling horror. Mestinya mereka tinggal di tempat serupa dengan rakyat kecil lainnya. Tinggal di sel yang sama dengan para penjahat kambuhan, makan kangkung yang sama dengan para maling ayam. "


Comments